Senin, 26 Desember 2011
Menjadi Penakut
Saya menjadi penakut akhir-akhir ini, seperti ada rasa was-was dan terlalu berhati-hati, tidak hanya berjalan atau pulang tengah malam sendiri, bahkan untuk memikirkan diri sendiri ditahun depan kaki saya langsung lemas, jantung rasanya berdetak cepat sekali, saya lantas menjadi penakut.
Seperti pagi ini saat saya berniat membuat secangkir kopi untuk meminimalisir rasa ngantuk karna tidur larut semalam, baru saja saya hendak menaruh satu sendok kopi tiba-tiba saja saya mengembalikan lagi ketempatnya semula. Rasa takut kafein dalam tubuh yang tidak pernah saya hiraukan selama ini tiba-tiba mengganggu pikiranku. Saya menjadi gelisah melihat cangkir kopi yang belum terisi apa-apa.
Ibu, saya menjadi penakut ketika melihat ibu yang seharian tidur dikasur tanpa mendengkur seperti biasanya. saya memperhatikan seluruh wajahnya, tubuhnya, hanya untuk memastikan masih ada tarikan nafas disana. saya menjadi penakut kalau saja tiba-tiba Tuhan Mengujiku dengan menjemput ibu seperti ayah dulu.
Saya kembali kekamar berdiri didepan cermin besar yang melebihi tinggi badanku. aku memperhatikan tubuhku yang setengah telanjang karna ditutup handuk berwarna jingga. warna yang tak pernah pantas untukku. aku memperhatikan setiap inci kulitku. selama ini aku terlalu berani, berani menghadapi apapun sendiri dengan tubuh ini. tubuh yang menatapku dengan penakut.
*Menjadi Penakut itu perlu, sekedar supaya kau tahu bahwa Keberanian bukan untuk melawan kehidupan*
Rabu, 02 November 2011
Menjadi Gemini, Menjadi Antagonis
"biarkan saya terbiasa" katanya...
Kamis, 13 Oktober 2011
Hampir pagi, dan dua cangkir lagi.
Kalau biasanya aku langsung mengkoneksikan diri dengan dunia maya, malam ini aku memilih menghabiskan dua novel roman pemberian seseorang yang sudah menemaniku selama delapan bulan terakhir. Seseorang yang tlah mengajakku melewati “petualangan penuh romantic” diusia yang menurut keluarga besarku, usia yang harusnya lebih getol memikirkan “pernikahan”. Mungkin kalau nenek dari ibu masih hidup aku akan segera dinikahkannya dengan anak juragan kerupuk atau anak pemilik pesantren. Cerita ini kudengar dari saudara-saudara ibuku waktu aku pulang ke Jawa dua tahun lalu, usiaku yang saat itu menginjak 23 tahun memicu topic “pernikahan dan perjodohan” ala siti nurbaya. untunglah tradisi perjodohan yang sudah melekat bertahun-tahun dalam keluargaku kini sudah tidak berlaku lagi. Kalaupun masih, mungkin caranya agak berbeda, misalnya dengan trik membawa anak mereka ke arisan keluarga, mulailah ajang saling “mengenalkan” meramaikan suasana. Perjodohan terselubungpun berlanjut.
Ah sudahlah, aku tak ingin mengingat pernikahan, aku tak menginginkan perjodohan, aku mau mengingat dia saja dari sisa-sisa kafein dalam tubuhku, aku hanya menginginkan kamu yang selalu membujukku untuk mengganti cangkir-cangkir kopi dengan segelas air putih. Seseorang yang selalu membenahi letak jantungku, sepasang mata yang membuatku selalu rindu tanpa ragu. ya dia,cangkir kopi keduaku. Aku mencintai kamu…tanpa harus.
Minggu, 17 Juli 2011
Kopi Setengah Fiksi III
Selasa, 12 Juli 2011
Kopi Setengah Fiksi II
Jumat, 08 Juli 2011
Kopi setengah Fiksi
Dia selalu memberikan campuran susu kedalam cangkir kopiku. katanya, kamu tetap bisa menikmati romantisme secangkir kopi buatanku, meskipun tak hitam pekat...seperti maumu!
Senin, 25 April 2011
GAZA
Sabtu, 09 April 2011
Lelaki Pemecah Perempuan Batu
Sebelum pagi yang kukatakan pada lelaki
Lelaki yang mau jadi apa saja untuk perempuan yang berjalan setelah malam
Perempuan yang hatinya sekeras batu meskipun hanya mengucap rindu
Lelaki menyebutnya garang seperti elang, tapi bisa terbang dengan tenang
Untuk perempuan yang hatinya sekeras batu
Tidak perlu malu jika nanti kamu mengaku cemburu
Rabu, 06 April 2011
Ibu di Balik Pintu
Bu…saat biru berubah kelabu aku pulang kerumahmu
Kau menyuruhku masuk ketika pintu baru sekali ku ketuk
Aku menunduk melewatimu waktu kau ingin memeluk
Bu…saat biru berubah kelabu aku pulang kerumahmu
Kali ini tanpa lelaki yang dulu kau anggap lugu dan bisa menjagaku
Jangan membisu bu, jika kau lihat rona merah diwajahku jadi membiru
Jangan membisu bu, jika yang kau lihat hanya sendu dari bibirku
Jangan membisu bu, ketika tubuh kurusku bersembunyi dibalik selimut
Dan dari balik pintu,
aku tahu Kau mengutuk lelaki yang kau anggap lugu dan bisa menjagaku…
Selasa, 15 Maret 2011
Anonim
Masih ingat dengan jelas saat dia datang dengan tatapan malu.
Tas cangklong, kelom berpita, dan sedikit malu-malu memesan segelas kopi.
Aku terbelalak, takjub, tak percaya dan setengah bersyukur.
Mahluk yang pernah mengaku tak bisa apa-apa ini membuatku tersenyum malam ini.
Karna dia membuat seseorang yang kusayang juga tersenyum.
Sabtu, 12 Maret 2011
Sebuah Pujian Kecil

Sudah lama saya tidak berlatih menulis lagi, berlatih menjadi penulis amatir walaupun kata orang kurang komersil. Yang saya tulis, hanyalah latihan menulis, bukan mendadak jadi novelis. Saya jadi ingat satu testimonial yang ditulis dosen saya tentang tulisan saya waktu itu, beliau memberikan penghargaan sederhana untuk saya, padahal hanya sebuah catatan harian yang tidak menarik. beliaulah orang pertama yang menilai tulisan saya, membuat saya lebih percaya diri untuk tidak sekedar menulis. Tapi kata-kata beliau mampu mendorong saya untuk menemukan dan mengeksplorasi potensi yang ada pada diri saya. Saya sangat mengagumi beliau, bukan sekedar pujiannya, tapi saya belajar, belajar banyak hal dari beliau. Belajar bagaimana kita seharusnya menghargai orang lain, memberikan kata-kata terbaik dengan tulus, memberi kebahagiaan untuk orang lain, bahkan hanya sekedar memberikan senyuman. sekecil apapun pemberian kita, itu akan memberikan efek yang besar terhadap kehidupan seseorang.
Ternyata betapa berartinya sebuah pujian untuk seseorang, sekalipun itu hanya satu kata. dengan sedikit makna. Dengan tidak melecehkan seseorang dengan kata-kata yang buruk, entah itu hanya kata becandaan seperti “goblok”, “jelek”, “bodoh”, “tidak tahu diri” bisa jadi kata itu memiliki pengaruh buruk untuk orang lain. Jadi Kenapa tidak jika kita membentuk kata yang membangun dan menghargai orang dengan tulus, membuatnya menjadi kekuatan yang luar biasa. Mulailah kita menerima keberadaan seseorang, kekurangannya, kelemahannya, Sekalipun kita tidak suka, belajarlah untuk menyukainya membuatnya berubah dengan menghargainya bukan melecehkannya. Jangan pernah mencibir pecandu narkoba, cobalah untuk tidak memandang sebelah mata kepada mereka yang terjangkit virus HIV, mendiskriminasi mantan narapidana, dan bergunjing tentang seorang pelacur, mereka juga butuh penerimaan, butuh penghargaan, butuh didengarkan, melecehkan bukan satu-satunya jalan untuk memahami mereka. Mulailah membangun komunitas yang baik antar sesama. Mungkin ini bisa jadi solusi yang baik!
Menerjemahkan Duniamu
Selasa, 08 Maret 2011
Bunga Ungu

Minggu, 06 Maret 2011
Setengah Dirimu

Catatan ketika rindu tak lagi menggebu.
Aku marah mataku memerah...
Aku marah hatiku terbakar...
Tidak Seperti biasa saat raga fiktif kita bersinggungan...
Entah kesal atau lelah
kamu diam malam itu...
Dan nyaris terlihat tolol!
Sesak,berat,menyiksa...
membuatku semakin tertekan...
Sepi,gelap,buta...
Membuatku semakin tersesat...
Tak kau tahukah itu?
Terkunci,Saat Aku ingin bicara, Saat Aku ingin bersenggama dengan hatimu...
Dasar Bodoh,Kau juga tidak mengerti,malah bicara romantika cinta yang semiotika...
Entah kesal atau lelah aku ingin pergi saja...
Dalam sebuah catatan aku menyimpan rindu yang sudah membatu...
Sabtu, 05 Maret 2011
Kopi dan Pinggiran Roti
Kamis, 03 Maret 2011
Dipinggir trotoar sebelum tengah malam
Saya berkendara lebih lambat, bahkan dibawah kecepatan rata-rata. tiba-tiba saya berniat berhenti dipinggir trotoar, memakirkan kendaraan dan turun. saya duduk, menarik napas, dan diam. saya baru sadar saya berhenti persis didepan kantor dimana saya dulu bekerja. kantor ini sepi. tidak ada aktivitas apa-apa. PT.blablabla tertulis dengan huruf-huruf balok berwarna biru. disampingnya ada logo perusahaan yang dulu tiap hari saya plototin. "kantor ini masih sama" dulu saya pernah hidup normal dari sini. Seperti kebanyakan orang menjalani hidupnya. punya pekerjaan tetap, gaji bulanan, dan rutinitas yang sama tiap harinya. paling tidak ketika ditanya "kerja dimana?" sudah ada jawaban mutlak tanpa harus hemmm...hummmm...ehmmm....
Apa saya menyesal meninggalkan itu semua? tidak. sama sekali tidak. saya juga tidak menyesal pernah bekerja diperusahaan itu. saya banyak belajar, banyak mengerti, minimal saya menyadari hidup itu harus berani menentukan pilihan. sama seperti sekarang, saya memilih duduk dipinggir trotoar memahami malam dengan semua intriknya. tidak harus cepat pulang, karena harus tidur, supaya tidak terlambat kekantor. saya biarkan tangan tuhan membawa saya kemanapun dia mau, saya percaya takdir, saya percaya pilihan tuhan, karena tidak ada satupun yang kebetulan di dunia ini :)
Saya pun pulang dan meninggalkan semua kenyamanan itu dipinggir trotoar...
Sejam,lewat semenit,empat detik
Satu hal yang paling saya sukai ketika saya pulang sendirian ditengah malam, setelah selesai bercumbu dengan beberapa cangkir kopi adalah saya bebas memiliki malam. Saat sedang berkendara saya bebas berkelak-kelok ditengah jalan, berada ditengah, dipinggir, tanpa takut ada kendaraan lain yang menabrak kendaraan saya. saya tidak perlu takut itu karena hanya ada saya diatas jalan raya seperti sedang menari-nari dilantai dansa berwarna hitam. Selanjutnya saya bebas menertawai lampu merah, yah, tidak ada tanda merah atau hijau yang harus saya ikuti. Mau berhenti atau jalan terus ya suka-suka saya. toh tidak ada orang-orangan bodoh dengan rompi hijau yang selalu mengejar disiang hari. Menari, menertawai, hahaha suatu hal konyol yang saya nikmati ketika pulang sendirian. Selalu dan berulang. Menegaskan saya sendirian.
Malam ini saya pulang tengah malam lagi, nyaris lewat tengah malam. hujan memaksa saya membubarkan diri dari obrolan-obrolan manis diwarung kopi. Saya bergegas pulang lebih dulu, setelah membayar dua gelas cangkir kopi yang sedikit pahit. Cukup cepat saya tiba dirumah, saya sengaja melaju lebih cepat dari biasanya, tidak ada adegan menari-nari ditengah jalan raya, saya pun melewati begitu saja lampu merah yang berkedap-kedip, kini tubuh saya sudah berbaring dan menatap langit-langit kamar. Diam. Saya hanya bisa diam menatap banyak hal yang menggantung dan mematung diatas sana. tangan kanan saya berpindah tempat, memegangi dada dibagian kiri yang terasa aneh. Jantung saya berdebar lebih cepat, cepat sekali, saya pun tidak bisa mengikuti iramanya. Saya berpikir saya akan mati. Sedikit lagi saya mati. Tinggal tunggu menit yang berhenti.
Jantungku masih berdetak kali ini membuat saya sedikit tidak bergerak, “gara-gara kopi itu ta” pesan singkat yang saya terima dari seorang teman. “bukan, bukan kopi” balasku ngotot. Sesuatu pasti akan terjadi. Entah apa. Sejam, lewat semenit, empat detik, ini bukan kopi tapi patah hati. Akhirnya saya menemukan jawabannya. Yah saya patah hati, didetik terakhir, Jantungpun berhenti,saya mati.
Satu Paragraph
"aku ingin mengajakmu mengulang masa lalu, menarik tanganmu untuk masuk ke dalam hutan yang sudah lama kau tinggal ke kota,aku takut kau lupa bentuk daun, lupa suara air terjun, dan lupa rasa buah masam yang sempat kau tinggalkan pada lidahku.aku ingin kau berlari kehutan hingga tersesat bersamaku"
Jumat, 25 Februari 2011
Setengah dua pagi untuk sebuah kopi

Kamis, 24 Februari 2011
TEH=DESPERATE
Rabu, 23 Februari 2011
Don’t Worry Long Distance Relationship Won’t Kill You!

This long distance is killing me, I wish that you were here with me, But we’re stuck where we are And it’s so hard,you’re so far, This long distance is killing me (long distance-bruno mars)
Pilihan kebanyakan orang untuk menjalani suatu hubungan (pacaran) adalah “bersama” (baca : memiliki kedekatan fisik). Robert Sternberg, seorang psikolog mengatakan bahwa : keintiman atau kedekatan fisik merupakan elemen emosi, di dalamnya terdapat kehangatan, kepercayaan (trust) dan keinginan untuk membina hubungan.
Lantas bagaimana dengan Long Distance Relationship (LDR) atau hubungan jarak jauh? Dalam hubungan itu, seseorang membutuhkan waktu yang cukup panjang hanya untuk mencium bau parfum, menggandeng tangan, menatap wajah atau bahkan untuk menikmati malam minggu bersama pasangannya. Tidak heran bagi kebanyakan orang, peluang keberhasilan hubungan ini sangat kecil, terlebih jika dibandingkan dengan hubungan jarak dekat (hubungan ideal pada umumnya). Buku “Would You Do It Again? Relationship Gained in a Long-distance Relationship” karya Mietzner menjelaskan : LDR adalah ketika seseorang berada minimal 50 mil dari pasangannya dan dalam jangka waktu minimal tiga bulan.
Banyak alasan sehingga orang memilih untuk LDR, ada yang karena study, karir, atau karena berasal dari kota berbeda. Seperti cerita Revina, dia berasal dari Palu dan sang pacar berasal dari Medan, mereka bertemu saat kuliah di kota Malang. Mereka menuntut ilmu, saling menjajaki sampai akhirnya sarjana dan kembali ke kota masing-masing. “Cukup berat ketika memulai hubungan jarak jauh ini,” kata Revina. Sebelumnya mereka terbiasa berkomunikasi dengan saling bertatap wajah, saat ini Revina lebih sering menggunakan komunikasi virtual.
Berbeda lagi dengan Joanna, dia memilih LDR karena memang mengenal sang pacar dari dunia maya. Sejak awal berkenalan, berteman, hingga memutuskan pacaran mereka belum pernah bertemu secara fisik. Dan menurut Joanna, hingga setahun ini semua berjalan dengan baik.
Cerita lain bisa kita lihat dari pengalaman teman dekat saya. Dia dan pasangannya menjalani LDR selama empat tahun, dengan hanya delapan kali bertemu, artinya dalam setahun mereka hanya bertemu dua kali. Teman saya sering jalan dengan orang lain, dia sangat santai menjalani LDR (having fun). Menurut dia, mereka (dia dan sang pacar) sudah berkomitmen : selama LDR mereka berhak untuk jalan dan dekat dengan siapa saja. Tetapi pada saat mereka bersama, mereka kembali menjalani aktivitas pacaran normal.
Setiap orang pasti memiliki alasan untuk menjalani LDR. Pada hubungan ini, kesetiaan, kejujuran dan kepercayaan kita benar-benar bekerja. LDR bisa menjadi mudah atau sulit, semua tergantung mindset dalam menjalani hubungan tersebut.
Nobody wants to wait forever
Menjalani LDR pasti bersahabat dengan situasi menunggu. Mulai dari menunggu sms atau telpon, sampai menunggu saat untuk bertatap muka. Olehnya dalam LDR, kehadiran sms, telepon, email, chat, menjadi sangat berarti. Soal komunikasi saat LDR, kita bisa melihat pengalaman Renny yang sudah dua tahun menjalani LDR. “LDR itu hubungan yang berat diongkos, musti siapin dana ekstra. Kalau mau minim budget, musti nunggu tengah malam biar dapat tarif telpon murah, Paginya sempoyongan gara-gara begadang, tapi puas bisa ngobrol sama pacar berjam-jam,” kata Renny, soal hubungannya.
Kekosongan dalam menunggu bisa memicu kandasnya LDR, seperti pengalaman Randy yang LDR-nya hanya bertahan seumur jagung. “Pacar saya orangnya gengsian. Dia selalu menunggu saya untuk menghubungi dia lebih dulu. Pada saat saya lagi sibuk-sibuknya, aktivitas menelpon dan sms ke dia, jadi berkurang. Dia berpikir saya tidak perhatian lagi, kemudian memutuskan saya dan akhirnya dia pacaran dengan temannya yang sering jadi tempat curhat”.
Kondisi menunggu ini bisa disiasati dengan berbagai aktivitas yang positif. Alangkah baiknya jika mengisi waktu menunggu itu dengan mengikuti kegiatan-kegiatan positif misalnya komunitas fotografi, komunitas menulis dan lain-lain. Siapa tahu hubungan LDR bisa menjadi inspirasi untuk menghasilkan karya seperti novel, cerpen, atau kumpulan puisi. Jadi, nikmati saja moment LDR, bukankah kalau menunggu berarti kita juga merindukan dia. Merindukan seseorang itu bagus! Karena itu membuktikan seberapa besar kita mencintai dia.
Be Happy, Communicate, Mutual trust (buat kamu yang menjalani LDR)
Mungkin kamu pernah berpikir “bagaimana mau bahagia? Kalau kamu gak bisa lihat dia waktu kamu benar-benar lagi butuhin dia”. Memang ada benarnya, tapi bukan dia saja yang bisa memberikan kamu kebahagiaan. Kamu masih punya teman-teman atau keluarga, yang bisa menemani kamu melewati hari-hari dalam menjalani LDR.
Kalau kamu bahagia dalam menjalani hubungan sama pasangan kamu, pasanganmu pasti akan lebih bahagia dan akan membawa kebahagiaan buat kamu. Tapi kalau kamu selalu galau dengan hubungan LDR, pasangan kamu justru gak nyaman dan akhirnya berpikir kamu gak bahagia. Pasangan kamu otomatis merasa khawatir, maybe akan timbul lebih banyak lagi pertanyaan dalam benak dia yang mengancam hubungan kamu.
So, tinggalin sikap sedih-sedih kamu itu. Berhenti mikirin dia seharian dengan lagu-lagu sendu. Wake up and be happy, semakin kamu bahagia, maka hubungan jarak jauh kamu akan baik-baik saja.
Dalam sebuah hubungan, komunikasi merupakan senjata paling penting. Nah, kalau hubungan jarak dekat (saja) bisa berantakan gara-gara komunikasi yang buruk apalagi LDR? Sebenarnya kamu bisa menghindari hal ini terjadi, dengan mengatur seberapa sering kamu bisa berhubungan lewat telpon atau chatting, misalnya sehari dua kali atau setiap dua hari telpon-telponan. Komitmen berkomunikasi ini akan memperkecil peluang terjadinya lost contact.
Saya pernah membaca kata bijak seperti ini “Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cinta menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia.” Jadi, jangan pernah berpikir mengubah pacar menjadi pantulan diri kita. Kita mesti mencintainya seperti apa adanya dia, memberikan kepercayaan pada dirinya. Biarkan dia melakukan hal yang dia suka tanpa merasa diawasi oleh kamu. Dalam LDR, ketidakhadiran sang pacar sering mendorong kamu untuk curiga berlebihan.
Saling percaya sangat penting dalam menjalani hubungan jarak jauh, inilah tantangan sebenarnya dari LDR. Saat kamu sedang menumbuhkan rasa saling percaya antara satu sama lain, tiba-tiba kamu juga terjebak dengan rasa paranoid dan posesif. Untuk itu dalam LDR kamu dituntut untuk memiliki rasa percaya dan keyakinan bahwa pasangan kamu tidak akan melihat orang lain saat kalian terpisah. So, dont possessive but positive thinking.
Kita dan Jejak Kehidupan

Hari ini gag tau kenapa,bangun tidur saya mengalami kerinduan yang dalaaam pada jaman smu dulu.Mungkin karna "bad mood" sama kondisi pertemanan sekarang. Jarang ketemu,jarang kongkow2, jarang ngumpul, jarang ngobrol, bikin saya kehilangan kemesraan dengan temen2 lama. Anyway,,,pagi ini saya langsung menuju meja kecil disudut kamar,membuka salah satu lacìi,mengambil salah satu dari beberapa tumpukan album foto, sedikit berdebu dan kusam,warna sampulnyb juga gag jelas antara merah dan orange.Hahaha. Album foto itu berisikan kenangan2 jaman smu dulu,foto perpisahan waktu lulus sekolah,semuanya nampak cupu,membuat saya ketawa ketiwi mengingat masa lalu beserta intrik2nya.Mm...Masa smu dulu,emang masa2 paling berkesan dihidup saya sampai saat ini. Ramenya, hura-huranya, suasana putih abu2, disini juga pertama kali sy bertemu dgn mr.Right hehehe. Sambil liat2 foto sy tiba2 kepikiran seandainya disaat sy smu, sy tahu bahwa ini akan menjadi saat2 paling berkesan dalam hidupku, apa ya yang akan say
a lakukan? Apa saya akan mencoba membuat saat itu lebih indah dan dramatis lagi? Hmm..Kalau kita bisa kembali ke masa lalu,pasti salah satu keinginan kita yang terbesar adalah memperbaiki kesalahan2 kita, dan mencoba membuat masa depan menjadi lebih baik lagi. (tapi klo gw,bakal nerima lg ungkapan cinta dari robert pattinson yg dlu sempet gw tolak hahaha)hmm..Tp apa bener kalau kita bisa memperbaiki kesalahan dimasa lalu???Maka secara otomatis hidup kita sekarang akan menjadi lebih baik??? Kalau hidup kita ini hanya sebuah takdir,berarti jawabannya ya, pasti hidup kita akan jadi lebih baik.Dan manusia hanya punya kekuatan besar memilih?Disaat kita memilih merubah satu bagian dari kehidupan kita dimasa lalu,kemungkinan kehidupan kita saat ini akan berubah dengan beribu kemungkinan yang gag bs ditebak,sebenernya yg mau gw bagiin cuman satu, jalanin,hari ini,besok,dan seterusnya,dengan lebih baik mungkin bisa mempengaruhi hidup kt dimasa depan.Hehehe muter jauh2 ketemu intinya pendek gini yak???




