Kamis, 16 Desember 2010

Don’t Underestimate Someone With Your Comment!

Apa yang lo rasain jika seseorang terlalu sering berkomentar dengan apa yang lo lakuin? Misalnya Lo update status “galau” orang-orang langsung bertubi-tubi koment dan bilang lo cengeng dan manja. Trus dilain waktu Lo nyanyi lagu melayu ( padahal lo cuman asal nyanyi) langsung si tukang komentar nyolot “ih selera musik lo kampungan ah”, atau lo make baju dengan style lo sendiri komentarpun muncul “ aneh gaya lo, itukan bukan trend fashion tahun ini!”, selanjutnya lo ketoko DVD beli film drama korea eh situkang komentar nongol lagi “apaan sih itu? Selera film lo gak box office banget deh” and so lo nulis kejadian-kejadian tadi diblog dengan gaya tulisan paling menyedihkan didunia and then si tukang komentar tetep nongol “gak mutu ah tulisan lo, buku harian banget” oh my goodness…

Sebuah komentar emang bukan hal baru buat gw, apalagi kegiatan coment-mengcoment adalah merupakan ritual khusus yang gak pernah lepas dari sebuah komunikasi social media di dunia maya. Memberikan komentar bisa ngebantu gw ngebangun suatu hubungan komunikasi timbal-balik dengan seseorang yang sebelumnya sama sekali gw gak kenal. Misalnya mengomentari status temen di facebook, memberikan komentar pada artikel disalah satu situs web, berkomentar suatu postingan di blog, bahkan saling berkomentar suatu topic menjadi hal menarik dalam sebuah forum didunia maya. gak hanya memberikan komentar tapi juga menerima komentar yang ditujukan ke gw.

Tapi Hari ini emosi gw bener-bener terbakar, seperti ada yang menyulutkan api langsung ke saraf otak gw yang awalnya adem ayem. Ini terjadi ketika gw nerima komentar-komentar yang gak menyenangkan dari beberapa orang yang gw kenal. Oke ini bukan masalah gw gak suka dikritik, ini masalah cara mereka mengkritik atau berkomentar dengan nada meremehkan, yah meremehkan. Jadi ceritanya gini, gw lagi asik-asiknya browsing diyahoo, yang tadinya niat gw hanya sekedar “memburu informasi” tapi berubah jadi ikutan kuis yang diadain yahoo http://id.omg.yahoo.com/blogs/siapa-pria-ideal-untuk-olla-ramlan-blog_editor 43.html#mwpphu-container gw gak peduli menurut orang-orang gw “norak” “gak ada kerjaan” “gak penting” “kampungan” and blabla, yang ada diotak gw *sambilnelenludah* gw harus menang dan ngedapetin ipad apple itu sebagai hadiahnya. Beberapa temen akhirnya tahu kalau gw ikutan kuis ini, so seperti yang gw bilang banyak banget yang mengomentari aksi kampungan gw ini, her said : “apa-apaan kau ikutan kuis beginian tha?tepenting ih”, “hahaha gak bakal menang juga kau”, and then “beli sendiri kek, dari pada ikutan kuis begini, bikin capek” dan gw cuman bisa nelen ludah sambil tetep menatap ipad apple dilayar monitor.

Komentar temen gw itu bener-bener bikin gw “geram tanpa dendam” argh komentar yang gak punya good attitude sama sekali. Emang sih gak ada yang larang siapapun untuk berkomentar, gw ulangi, siapapun, ya siapapun boleh berkomentar, dinegara manapun atau dengan media apapun. Gw atau lo, meski dari kalangan manapun, dan siapapun lo. Bahkan tempat untuk menyatakan pendapat kita tersebut sudah tersedia dengan baik. tapiii Kenapa kita gak berkomentar dengan pilihan kata-kata yang baik pula? Kenapa komentar yang kita berikan gak berupa pujian? Dorongan? Paling tidak jika gak sependapat dan gak suka sama pilihan orang lain, kenapa gak berkomentar dengan bijak? Tanpa harus bernada underestimate dalam mengomentari sesuatu. Bukankah Komentar, salah satu cara membangun komunikasi supaya tercipta hubungan yang baik? bukan malah menciptakan suatu hubungan yang gak menyenangkan, yah Terkadang kita merasa jago, merasa sempurna, dan merasa punya segalanya sehingga kita gak pernah menyadari kalau kata-kata atau komentar kita untuk orang lain itu bisa membuat seseorang merasa kerdil. So, Don’t Underestimate Someone With Your Comment guy's.

Sabtu, 11 Desember 2010

Surat Dari Ahira

Pinta temanku,

Banyak orang bisa 'berkata', namun sedikit yang mau 'mendengar'. Padahal jika kita mau kembali ke hukum alam, seharusnya kita harus lebih banyak mendengar daripada bicara. Bukankah Tuhan memberi kita dua telinga dan hanya satu mulut? :-) Begitupun jika kita saksikan pada bayi yang baru lahir. Indra pendengaran lebih dulu berfungsi daripada yang lainnya. Lalu, mengapa mendengar lebih susah daripada berbicara?

Meski secara kasat mata mendengar adalah hal yang gampang, namun nyatanya banyak orang yang lebih suka didengarkan daripada mendengarkan. Mendengarkan merupakan bagian esensi yang menentukan komunikasi efektif. Tanpa kemampuan mendengar yang bagus, biasanya akan muncul banyak masalah. Yang sering terjadi, kita merasa bahwa kitalah yang paling benar. Kita tidak tertarik untuk mendengarkan opini yang berbeda dan hanya tergantung pada cara kita. Selalu merasa benar, paling kompeten, dan tidak pernah melakukan kesalahan.

Jika kita selalu merasa bahwa diri kita benar, dan cara kitalah yang paling tepat, itu berarti kita tidak pernah mendengarkan. Ide dan opini kita sangat sukar untuk diubah jika fakta tidak mendukung keyakinan kita. Bahkan kalau ada fakta pun kita mungkin hanya akan sekedar meliriknya saja. Mungkin saat ini kita nyaman dengan cara kita, tapi untuk jangka waktu yg panjang, orang-orang akan menolak dan membenci kita. Jika kita mau mulai mendengarkan orang lain, maka suatu saat kita akan menyadari kesalahan kita. Jawaban untuk mengatasi sifat ini adalah mengasah skill mendengar aktif.

Mendengar tidak selalu dengan tutup mulut, tapi juga melibatkan partisipasi aktif kita. Mendengar yang baik bukan berharap datangnya giliran berbicara. Mendengar adalah komitmen untuk memahami pembicaraan dan perasaan lawan bicara kita. Ini juga sebagai bentuk penghargaan bahwa apa yang orang lain bicarakan adalah bermanfaat untuk kita. Pada saat yang sama kita juga bisa mengambil manfaat yang maksimal dari pembicaraan tersebut.

Seni mendengar dapat membangun sebuah relationship. Jika kita melakukannya dengan baik, orang-orang akan tertarik dengan kita dan interaksi kita akan semakin harmonis. Dengan berusaha untuk memahami, bisa jadi kita akan menemukan sudut pandang, wawasan, persepsi atau kesadaran baru,yang tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya. Seorang pendengar yang baik sebenarnya hampir sama menariknya dengan pembicara yang baik. Jika kita selalu pada pola yang benar untuk jangka waktu tertentu, maka suatu saat kita akan merasakan manfaatnya. Prosesnya mungkin akan terasa lama dan menjemukan, tapi lama-kelamaan akan terasa berharganya upaya yang telah kita lakukan. Kita akan merasa lebih baik atas diri kita, hubungan kita, teman-teman kita, anak-anak kita, maupun pekerjaan.


“Itulah surat yang dikirimkan untuk saya oleh Ahira, surat yang berharga untuk saya memperbaiki diri, untuk mengurangi takaran EGO dalam diri saya, untuk mau LEbih banyak menawarkan Telinga, hati, dan pikiran sa
ya buat orang lain. saya tidak akan menyimpan surat ini HANYA untuk saya, saya ingin membaginya, mensharingkannya kepada teman-teman saya, Jadilah pendengar yang baik, karena sifat ini bisa menjadi kunci untuk mengembangkan pikiran yang positif, dan merupakan salah satu tangga untuk mencapai kesuksesan! :-)”

be good hearer

Top of Form

Bottom of Form

Kamis, 09 Desember 2010

Saat Dunia Nyata Tak Lagi Menarik

Akhir-akhir ini saya merasa tidak seperti manusia yang sebagaimana harusnya. Manusia yang katanya sebagai makhluk individu yang memiliki unsur jasmani dan rohani, makhluk sosial yang seharusnya hidup bermasyarakat – berinteraksi dengan individu lain secara nyata. Sepertinya beberapa unsur itu tidak menyatu dalam diri saya. Terasa ada yang hilang, kurang tercecer atau tak lengkap. Sebuah kejadian di sebuah warung kopi, membuat sadar bahwa saat ini saya mengalami “krisis interaksi di dunia nyata”.

Di Warung kopi, saya duduk manis dengan segelas kopi di sebelah kiri. Tanpa mengamati kanan kiri, langsung membuka laptop dan mulai mengakses internet. Internet seperti pintu kemana saja milik doraemon, membawa kemanapun saya mau : mengucapkan selamat malam pada teman saya di India – menanyakan makan malam teman saya di Prancis – sekedar mengobrol dengan beberapa teman di kota lain. Bahkan mengirimkan tulisan-tulisan saya, tanpa harus repot mengantarkannya langsung. Dan semua bisa lakukan dalam waktu bersamaan. Cukup diam di depan laptop, membiarkan jemari yang memainkan huruf-huruf di atas keyboard. Menjadikannya tawa tanpa harus bersuara – menjadikannya tangis tanpa meneteskan air mata – mengungkapkan apapun tanpa harus malu ketika raut wajah memerah. Yah ini yang menyebabkan saya “autis” ketika sudah berada di dunia maya.

Kenyataannya ketimbang dunia nyata, dunia maya ini jauh lebih menarik buat saya. Internet bisa menghubungkan saya dengan manusia-manusia di belahan dunia manapun, berinteraksi dengan individu-individu baru, mengefesienkan waktu, mempermudah cara berinteraksi. Sejak ada internet dan berinteraksi melalui dunia maya menjadi tren, saya sedikit meninggalkan cara interaksi konvensional. Merasa dimudahkan, saya lebih mudah “akrab” ketika mengobrol di dunia maya, merangkai kata menjadi lelucon – padahal di dunia nyata saya susah melakukan ini. Yang paling saya sukai ialah tidak perlu menatap orang terlalu lama, tidak harus selalu tersenyum cukup mengetikan icon :) sudah cukup bagi lawan mengobrol kita. Atau tidak perlu malu, saya bebas menguap kapan saja toh yang dihadapi hanya sebuah monitor, bukan fisik manusia secara nyata yang mungkin bisa mengkritik saat itu juga. Saya terlalu nyaman tinggal disini, sampai seorang sahabat mengatakan “ berinteraksi dalam ruang maya, lama-lama bisa mematikan panca inderamu” *glek* saya sedikit tidak bisa menerima dengan apa yang dia katakan. Apa maksudnya coba? yah Meskipun pada akhirnya…

Saya sadar ada rasa rindu dengan teman-teman untuk berinteraksi secara nyata. Rindu bercengkrama secara langsung dengan teman, memberikan pelukan besar tanpa harus menggantinya dengan sebuah icon yang akhir-akhir ini saya anggap tidak lucu :(. Saya ingin mendengar secara langsung tawa teman-teman, mencium bau parfum terbarunya dari dekat, melihat langsung perubahan-perubahan dalam dirinya ketika bertatap muka saat mengobrol. Saya merindukan semua hal yang nyata yang dulu dirasakan menggunakan semua panca indera. Sekarang teman-teman saya berubah menjadi layar segi empat yang ajaib. Hal ini mengingatkan saya, ternyata menjadikan dunia maya sebagai interaksi utama dalam kehidupan bersosial, bisa menjauhkan diri dari kehidupan sosial di dunia nyata. bagaimana dengan kamu?