
Apa yang lo rasain jika seseorang terlalu sering berkomentar dengan apa yang lo lakuin? Misalnya Lo update status “galau” orang-orang langsung bertubi-tubi koment dan bilang lo cengeng dan manja. Trus dilain waktu Lo nyanyi lagu melayu ( padahal lo cuman asal nyanyi) langsung si tukang komentar nyolot “ih selera musik lo kampungan ah”, atau lo make baju dengan style lo sendiri komentarpun muncul “ aneh gaya lo, itukan bukan trend fashion tahun ini!”, selanjutnya lo ketoko DVD beli film drama korea eh situkang komentar nongol lagi “apaan sih itu? Selera film lo gak box office banget deh” and so lo nulis kejadian-kejadian tadi diblog dengan gaya tulisan paling menyedihkan didunia and then si tukang komentar tetep nongol “gak mutu ah tulisan lo, buku harian banget” oh my goodness…
Sebuah komentar emang bukan hal baru buat gw, apalagi kegiatan coment-mengcoment adalah merupakan ritual khusus yang gak pernah lepas dari sebuah komunikasi social media di dunia maya. Memberikan komentar bisa ngebantu gw ngebangun suatu hubungan komunikasi timbal-balik dengan seseorang yang sebelumnya sama sekali gw gak kenal. Misalnya mengomentari status temen di facebook, memberikan komentar pada artikel disalah satu situs web, berkomentar suatu postingan di blog, bahkan saling berkomentar suatu topic menjadi hal menarik dalam sebuah forum didunia maya. gak hanya memberikan komentar tapi juga menerima komentar yang ditujukan ke gw.
Tapi Hari ini emosi gw bener-bener terbakar, seperti ada yang menyulutkan api langsung ke saraf otak gw yang awalnya adem ayem. Ini terjadi ketika gw nerima komentar-komentar yang gak menyenangkan dari beberapa orang yang gw kenal. Oke ini bukan masalah gw gak suka dikritik, ini masalah cara mereka mengkritik atau berkomentar dengan nada meremehkan, yah meremehkan. Jadi ceritanya gini, gw lagi asik-asiknya browsing diyahoo, yang tadinya niat gw hanya sekedar “memburu informasi” tapi berubah jadi ikutan kuis yang diadain yahoo http://id.omg.yahoo.com/blogs/siapa-pria-ideal-untuk-olla-ramlan-blog_editor 43.html#mwpphu-container gw gak peduli menurut orang-orang gw “norak” “gak ada kerjaan” “gak penting” “kampungan” and blabla, yang ada diotak gw *sambilnelenludah* gw harus menang dan ngedapetin ipad apple itu sebagai hadiahnya. Beberapa temen akhirnya tahu kalau gw ikutan kuis ini, so seperti yang gw bilang banyak banget yang mengomentari aksi kampungan gw ini, her said : “apa-apaan kau ikutan kuis beginian tha?tepenting ih”, “hahaha gak bakal menang juga kau”, and then “beli sendiri kek, dari pada ikutan kuis begini, bikin capek” dan gw cuman bisa nelen ludah sambil tetep menatap ipad apple dilayar monitor.
Komentar temen gw itu bener-bener bikin gw “geram tanpa dendam” argh komentar yang gak punya good attitude sama sekali. Emang sih gak ada yang larang siapapun untuk berkomentar, gw ulangi, siapapun, ya siapapun boleh berkomentar, dinegara manapun atau dengan media apapun. Gw atau lo, meski dari kalangan manapun, dan siapapun lo. Bahkan tempat untuk menyatakan pendapat kita tersebut sudah tersedia dengan baik. tapiii Kenapa kita gak berkomentar dengan pilihan kata-kata yang baik pula? Kenapa komentar yang kita berikan gak berupa pujian? Dorongan? Paling tidak jika gak sependapat dan gak suka sama pilihan orang lain, kenapa gak berkomentar dengan bijak? Tanpa harus bernada underestimate dalam mengomentari sesuatu. Bukankah Komentar, salah satu cara membangun komunikasi supaya tercipta hubungan yang baik? bukan malah menciptakan suatu hubungan yang gak menyenangkan, yah Terkadang kita merasa jago, merasa sempurna, dan merasa punya segalanya sehingga kita gak pernah menyadari kalau kata-kata atau komentar kita untuk orang lain itu bisa membuat seseorang merasa kerdil. So, Don’t Underestimate Someone With Your Comment guy's.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar